ASURANSI

Beberapa waktu yang lalu, saya ditelepon teman saya yang mengabarkan bahwa putrinya sedang tergolek di rumah sakit. Saya sudah lupa lupa sakit apa yang dideritanya. Saya sendiri merasa sedih sebagai teman. Walaupun kita sudah tidak lama berjumpa tapi mendengar suaranya saja sudah cukup menggembirakan bagi saya. Yah,,, walaupun teman saya seorang pengusaha yang lumayan namun begitu divonis dokter putrinya terkena penyakit ….. oh ya, penyakit radang paru-paru, dia hanya bisa pasrah sedih dan menangis. Sebagai teman saya berusaha untuk mencoba membesarkan hatinya (emang bisa besar ga ya…) bahwa Tuhan memberi cobaan manusia pasti sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Dan kita harus yakin itu, karena sesuatu yang diyakini pasti akan terjadi kebenarannya.

Teman saya dan suaminya ini bukanlah seorang pegawai kantor. Mereka mempunyai usaha yang cukup terbilang mapan dan tersebar di berbagai daerah. Usianya masih cukup muda untuk ukuran kita (Yah…. mungkin sekitar 28 tahun). Duh jadi pengen kapan ya bisa seperti mereka. Hmm sudahlah, impian itu harus segera saya wujudkan agar bisa seperti mereka. Mereka begitu percaya diri dengan usaha yang dikelola tanpa harus mempertimbangkan hal lain. Mereka cukup matang dalam mempersiapkan putra-putrinya untuk jenjang yang lebih tinggi dengan menabung sebagian hasil usaha mereka.

Dueerrrrr……begitu dikabarkan putrinya terkena penyakit mereka baru sadar bahwa penyakit itu sungguh sangat mahal harganya.  Uang yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun untuk masa depan (impian) mereka hilang hanya dalam waktu beberapa hari saja. (Impian ingin pergi berjalan-jalan keluar negeri pun rasanya hampa). Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah mendengarkan kata-kata dokter. Saya hanya bisa membayangkan, bagaimana hal ini bila terjadi pada teman-teman kita, sanak saudara kita atau bahkan kedua orang kita ? Kita hanya bisa berharap dan berdoa mudah-mudahan selalu diberi kesehatan lahir dan batin oleh Yang Maha Kuasa.

Lalu saya teringat beberapa waktu terakhir bertemu, ketika itu kita bercerita masalah asuransi kesehatan yang sudah saya ikuti, karena saya juga bukanlah seorang pegawai kantoran yang apabila sakit sudah dicover sama perusahaan. Saya hanyalah seorang pengusaha kecil yang ingin menjadi besar seperti Azrul Ananda (Loh, koq azrul ananda ??? Ia la wong masih muda sudah bisa pergi kemana-mana_)

Betul. Dia merasa menyesal sekali ketika saya menanyakan tentang asuransi. Saat itu dia belum merasa perlu sekali dengan asuransi. Buang-buang uang katanya. Saya hanya bisa tersenyum tatkala teman saya berbicara seperti itu. Saya teringat pertama kali saat ikut asuransi, kedua orang tua marah besar dengan sikap yang saya ambil ini. Saya sedikit heran lha wong saya ini tidak mencuri, tidak merampok, koq dilarang sama kedua orang tua saya. Saya hanya menunduk ketika mereka memarahi saya. Tidak perlu saya melawan.  Saya bisa terima dengan lapang dada dengan kemarahan orang tua saya. Memang orang tua saya bekerja di perusahaan terkemuka di Indonesia yang bila sakit sudah tidak khawatir mengeluarkan biaya. Semua ditanggung sampai anak-anaknya yang nomor 3. (hiks… saya kan anak nomor 4, jadi gak dapat jatah deh. kacian deh aku.).

Oke, kita kembali kepada teman saya. Dia baru menyadari kalau kesehatan sangat mahal harganya. Nasi sudah menjadi bubur. Dan sekarang mereka mengikuti asuransi kesehatan dan pendidikan dan langsung memasukkan suami, dan kedua anaknya untuk diikutkan ke perusahaan asuransi. Nah, ketika hal ini saya ceritakan kepada orang tua saya mereka sedikit bisa menerima dengan keadaan ini. Bagaimanapun juga saya juga masih sayang pada diri saya sendiri, saya masih ingin menggapai impian yang belum saya wujudkan, dan saya tidak ingin merepotkan mereka dan keluarga saya ketika saya sakit atau hal lain yang menghalangi saya untuk tidak bisa berkarya.

Saya bukan seorang pegawai asuransi dan saya juga bukan seorang konsultan yang bisa memberi kontribusi lebih kepada negara tercinta (jaeelah). Saya hanya bisa menyarankan kepada teman-teman yang membaca ini  mari hendaknya lebih menyadari betapa pentingnya kesehatan bagi kita, bagi keluarga kita, maupun bagi anak-anak kita nanti. Sisihkanlah sebagian uang untuk mengikuti asuransi dan tidak usah berpikir panjang. Esok mungkin terlambat. Terima kasih

Tinggalkan Balasan